Masalah Sampah di SMPS Katolik Kotagoa Boawae: Tantangan dan Solusi Bersama
Setiap pagi, halaman SMPS Katolik Kotagoa Boawae tampak ramai oleh aktivitas siswa yang bersemangat memulai aktivitas. Namun di balik semangat itu, muncul satu persoalan yang sering luput dari perhatian: masalah sampah. Plastik bungkus makanan, botol minuman, dan kertas sisa kegiatan belajar sering berserakan di sudut-sudut sekolah. Apakah ini hanya persoalan kebersihan semata, atau ada hal yang lebih dalam tentang kebiasaan dan tanggung jawab lingkungan di baliknya?
Masalah sampah di lingkungan sekolah menjadi isu penting karena berkaitan langsung dengan pola hidup sehat dan kesadaran ekologi siswa. Topik ini menarik untuk dikaji, sebab sekolah adalah tempat pembentukan karakter generasi muda yang kelak menentukan wajah lingkungan di masa depan.
Hasil observasi sederhana yang dilakukan oleh tim OSIS menunjukkan bahwa setiap hari sekolah menghasilkan sekitar 5 hingga 7 kilogram sampah, sebagian besar berasal dari bungkus plastik makanan dan minuman sekali pakai. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut belum dipilah antara organik dan anorganik, sehingga menumpuk di tempat pembuangan sementara di belakang sekolah.
Menurut pendapat ahli lingkungan, Dr. Yuliana Wondo (2023), perilaku membuang sampah sembarangan di sekolah sering kali disebabkan oleh kurangnya pembiasaan dan keteladanan. Siswa cenderung mengikuti kebiasaan teman sebaya. Jika tidak ada yang memberi contoh untuk membuang sampah pada tempatnya, perilaku buruk itu akan terus berulang.
Selain itu, minimnya sarana pendukung seperti tong sampah terpilah dan program daur ulang juga memperparah keadaan. Padahal, sekolah memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pendidikan lingkungan hidup. Dengan sedikit inovasi, seperti lomba kebersihan kelas, bank sampah, atau program “Eco Friday”, kesadaran siswa bisa tumbuh secara alami.
Beberapa sekolah lain di wilayah Nagekeo telah berhasil menekan jumlah sampah melalui program pemilahan sampah dan pengelolaan kompos. SMPS Katolik Kotagoa Boawae sebenarnya sudah memulai langkah serupa melalui kegiatan Jumat Bersih dan edukasi lingkungan di pelajaran IPA dan Prakarya, namun masih perlu dukungan berkelanjutan agar tidak sekadar menjadi kegiatan insidental.
Masalah sampah di SMPS Katolik Kotagoa Boawae bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi juga cermin kedisiplinan dan tanggung jawab bersama. Setiap bungkus plastik yang dibuang sembarangan adalah simbol kecil dari sikap abai terhadap lingkungan.
Sudah saatnya seluruh warga sekolah yaitu siswa, guru, dan pegawai harus bergandengan tangan untuk menciptakan sekolah hijau yang bersih dan sehat. Melalui program edukasi, keteladanan, dan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, SMPS Katolik Kotagoa Boawae dapat menjadi contoh sekolah peduli lingkungan di Nagekeo. Dengan demikian, kebersihan bukan lagi sekadar slogan, tetapi menjadi gaya hidup baru yang mencerminkan iman, tanggung jawab, dan cinta terhadap ciptaan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar